Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW, Cikal Bakal Jadi Budaya Islam di Indonesia, Muslim Harus Paham

24 Oktober 2020, 09:23 WIB
Maulid Nabi Muhammad Saat Rabiul Awal, Berikut yang Harus dilakukan dan Amalan-Amalannya. /Abdullah Shakoor

SEMARANGKU – Momen Maulid Nabi dirayakan sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awwal dan diperingati oleh seluruh umat Muslim dan Islam di Indonesia serta dunia.

Peringatan Maulid Nabi SAW dilakukan dengan berbagai ekspresi untuk mengenang hari yang bersejarah dan memiliki arti yang mendalam bagi umat Islam.

Wujud dari merayakan Maulid sudah menjadi budaya di Indonesia dengan membaca Manakib Nabi Muhammad dalam Kitab Maulid Barzanji, Maulid Simtud Dhurar, Diba’, Saroful Anam, Burdah, dan lain-lain untuk memahami sejarah Nabi.

Baca Juga: Kronologi Seorang Pria Mendapat Hukuman Mati Diduga Karena Tolak Masuk Islam dan Menghina Nabi

Selesai membaca Manakib Nabi Muhammad, biasanya masyarakat menyantap makanan bersama-sama yang disediakan secara gotong royong oleh warga.

Masyarakat Muslim tidak hanya bergembira merayakan kelahiran Nabi, tetapi juga bersyukur atas teladan, jalan hidup, dan tuntunan yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Sejumlah negara di belahan dunia termasuk Indonesia sudah biasa melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bahkan di Indonesia Maulid Nabi merupakan Hari Libur Nasional.

Baca Juga: Gila-gilaan! Telkomsel Siapkan Hadiah Uang Gratis Rp160 Juta, Ini Syarat dan Cara Dapatnya

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini jatuh pada Kamis 29 2020 mendatang.

Dalam bangsa Arab, perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW ini menurut catatan Ahmad Tsauri dalam Sejarah Maulid Nabi (2015) dijelaskan, perayaan Maulid Nabi sudah dilakukan oleh masyarakat Muslim sejak tahun kedua Hijriah.

Catatan tersebut merujuk pada Nuruddin Ali dalam kitabnya Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa. Dalam catatan tersebut dijelaskan bahwa seorang bernama Khaizuran (170 H/786 M) yang merupakan ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk mengadakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad di Masjid Nabawi.

Baca Juga: Selain via BRI, Bisa Login BNI eform.bni.co.id/bpum Cek Penerima BLT UMKM BPUM Online Cuma Pakai KTP

Dilansir dari laman resmi Jatim.nu.or.id, dari Madinah, Khaizuran juga menyambangi Mekah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk Mekah untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad.

Jika di Madinah bertempat di masjid, Khaizuran memerintah kan kepada penduduk Mekah untuk merayakan Maulid di rumah-rumah mereka.

Khaizuran merupakan sosok berpengaruh selama masa pemerintahan tiga khalifah Dinasti Abbasiyah, yaitu pada masa Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas (suami), Khalifah al-Hadi dan Khalifah al-Rasyid (putra).

Baca Juga: Pertemuan Jusuf Kalla dan Paus Fransiskus Ternyata Membahas Isu Ini

Karena pengaruh besarnya tersebut, Khaizuran mampu menggerakkan masyarakat Muslim di Arab. Hal ini dilakukan agar teladan, ajaran, dan kepemimpinan mulia Nabi Muhammad bisa terus menginspirasi warga Arab dan umat Islam pada umumnya.

Pada masa Dinasti Abbasiyah, pembaruan pemikiran memang banyak terjadi di semua sektor kehidupan, dari perkembangan ilmu-ilmu umum, arsitektur, hingga situs-situs sejarah.

Khaizuran merupakan salah satu sosok yang mempunyai perhatian besar terhadap Nabi Muhammad beserta situs-situs sejarah peninggalan Nabi.

Baca Juga: Awas! Ini Penyebab Gagal Cek Penerima BLT UMKM Banpres BPUM Pakai KTP via Login eform.bri.co.id/bpum

Termasuk memprakarsai penghormatan terhadap kelahiran Rasulullah SAW. Muhammad diyakini lahir pada 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah (570 Masehi).

Namun dalam catatan Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (2006) ada juga pendapat-pendapat lain yang menyatakan bahwa Nabi lahir lima belas tahun sebelum peristiwa gajah.

Ada juga yang mengatakan ia dilahirkan beberapa hari atau beberapa bulan atau juga beberapa tahun sesudah Tahun Gajah. Ada yang menaksir tiga puluh tahun, dan ada juga yang menaksir sampai tujuh puluh tahun.

Baca Juga: Sejarah Sihir Lengkap, Kisah Nabi Sulaiman AS Membasmi Ilmu Hitam

Baca Juga: Tragedi 10 Sura, Kisah Pembunuhan Husein bin Ali, Cucu Kesayangan Nabi

Di Jazirah Arab, masa sebelum Islam didakwah kan Nabi Muhammad sering disebut sebagai zaman Jahiliyah atau masa ketidaktahuan, sesat, atau bodoh.

Menurut M. Quraish Shihab dalam bukunya Lentera Hati (2007), kondisi ini kerap dilekatkan dengan keputusan Allah yang menurunkan Rasul terakhirnya di tanah tersebut.

Masyarakat Arab berada di tengah himpitan imperium Romawi dan Persia. Kedua kekuatan ini memperebutkan wilayah Hijaz di Timur Tengah yang waktu itu belum terkuasai.

Baca Juga: Kuota Internet Gratis Kemdikbud Cair, Yuk Klaim Tambahan 10 GB dari By.U, Ini Caranya

Letak Hijaz atau Jazirah Arab yang berada di tengah itulah yang dijadikan patokan para mufasir dan sejarahwan Islam untuk menafsirkan ‘teka-teki ketuhanan’ mengapa Muhammad lahir di daerah ini.

Menurut Quraish Shihab, jika pesan hendak disampaikan ke seluruh penjuru, maka si penyampai pesan mesti berdiri di tengah agar pesan mudah tersebar dan menghindari kekuatan yang dapat menghalangi tersebarnya pesan tersebut.

Timur Tengah adalah jalur penghubung Timur dan Barat, maka wajar jika kawasan tersebut menjadi tempat menyampaikan pesan Ilahi yang terakhir.

Baca Juga: Kamu Harus Lapor Jika Kuota Internet Gratis Kemdikbud Belum Cair, Bisa dari WA, Ini Caranya!

Quraish Shihab juga menerangkan, Mekah sebagai tempat kelahiran Nabi merupakan pusat Hijaz yang menjadi simpul pertemuan para pedagang dan seniman dari pelbagai penjuru.

Muhammad berasal dari suku Quraisy yang berpengaruh di Mekah. Suku ini mempunyai dua keluarga besar yakni Hasyim dan Umayyah. Al-Aqqad dalam Mathla’ Al-Nur seperti dikutip Quraish Shihab, menyatakan bahwa keluarga Hasyim (Bani Hasyim) terkenal gagah, berwibawa, simpatik, budiman, dan religius.

Baca Juga: Pakai KTP, Login eform.bri.co.id/bpum, Dapat BLT UMKM Banpres BPUM di BRI Jika Penuhi Ini

Baca Juga: Kisah Sedih Bilal bin Rabah, Sahabat Nabi Muhammad SAW, Muazin Pertama yang Kumandangkan Adzan

Sementara keluarga Umayyah adalah politikus yang pandai melakukan tipu daya, pekerja yang ambisius, dan tidak gagah. Menurut Al-Aqqad, hal ini disepakati para sejarawan dan tidak dibantah oleh Umayyah bahkan setelah mereka berkuasa. ***

Editor: Heru Fajar

Sumber: NU Jatim

Tags

Terkini

Terpopuler