Dolanan dan Seni Tradisional  Hindarkan Pelajar dari Paham Radikal, Ganjar : Radikalisme Sliweran di Medsos

- 14 April 2021, 17:45 WIB
Ilistrasi Gambar Permainan Tradisional Virtual bisa cegah radikalisme
Ilistrasi Gambar Permainan Tradisional Virtual bisa cegah radikalisme /Istimewa/
 
SEMARANGKU - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menilai permainan atau dolanan tradisional dapat membantu para pelajar sekolah untuk tidak berpaham radikal
 
Hal itu diungkapkan saat acara Penguatan Keluarga untuk Keluarga Berdaya Dalam Mencegah Radikalisme oleh Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah.
 
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menilai permainan atau dolanan tradisional dapat membantu para pelajar sekolah untuk tidak berpaham radikal
 
Menurut Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dengan melalui permainan atau dolanan tradisional tersebut , pelajar akan mampu mengambil nilai keterbukaan satu sama lain, kepemimpinan, kerja sama (teamwork), dan nilai penting lainnya.
 
 
 
 
 
Ganjar juga menekankan pentingnya pelajar untuk aktif pada kegiatan seni dan budaya.
 
"Paling bagus sebenarnya (mencegah paham radikal) dengan seni dan budaya. Pelajar bisa menari, main ketoprak, wayang, dolanan
 
Itu mengakrabkan, berhubungan, terbuka, ada teamwork, leadership. Gobak sodor, ada (nilai) leadership," kata Ganjar pada sambutannya dalam kegiatan Pemasyarakatan dan Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila, dalam rangka puncak peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK Provinsi Jawa Tengah ke 49 tahun 2021, secara daring dan luring, Rabu 13 April 2021.
 
Di samping mengajarkan permainan atau dolanan tradisional, Ganjar juga  menekankan agar para pelajar diberikan pengertian/penjelasan bahwa betapa pentingnya rasa kemanusiaan serta kepedulian terhadap sesama. 
 
Misalnya, dengan ikut membantu siswa lainnya yang tengah kesulitan/membutuhkan bantuan, membantu tetangga yang kesusahan, atau bersikap bijak saat menggunakan media sosial.
 
Di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, atau sejenisnya, biasanya banyak bermunculan ujaran kebencian atau ajaran yang melenceng dari ajaran yang sebenarnya. 
 
 
 
Hendaknya, para pelajar bisa selektif dan bijak dalam menanggapi setiap bermedia sosial. 
 
Termasuk juga, apabila di medsos terdapat konten yang menyalahkan kebaikan yang selama ini diajarkan oleh orang tua maupun guru,  hendaknya para pelajar dapat  mengabaikan itu semua. 
 
"Kalau di medsos ada yang serem, kita beri contoh yang baik," sambungnya.
 
Paham radikal semacam itu, lanjutnya, biasanya bersliweran di media sosial. Dengan kecenderungan, biasanya dilakukan oleh kelompok tertentu atau sekelompok kecil yang merasa  pihaknya paling benar sendiri, sedangkan pihak lain adalah salah. 
 
"Ciri radikal itu fanatik, menganggap diri benar, yang lain salah, intoleran, tidak mau menerima perbedaan dan keyakinan orang lain, revolusioner ingin ada perubahan secara drastis. Tidak jarang ada kekerasan, eklusif atau memisahkan diri," ujarnya.
 
Ganjar juga menuturkan salah satu upaya dalam menangkal radikalisme di antaranya dengan langkah preventif, yaitu menanamkan jiwa nasionalisme, berpikiran terbuka dan toleran, waspada terhadap provokasi dan hasutan, berjejaring dalam komunitas positif dan perdamaian, dan menjalankan aktivitas keagamaan dengan toleran.
 
 
Upaya menangkal radikalisme juga secara kuratif, yakni memberikan pemahaman tentang bahaya dan dampak radikalisme, memberikan pemahaman tentang ajaran agama yang benar, serta menguatkan nilai-nilai nasionalisme, toleransi dan perdamaian. 
 
"Perdamaian, perdamaian, ada lagunya, lho," celetuk Ganjar dengan nada jenaka.
 
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sempat mencoba menanyakan beberapa hal kepada pelajar se-Jawa Tengah yang hadir secara daring, kaitannya dengan penyikapan mereka bila menemukan perbedaan di sekitarnya. 
 
Seperti halnya perbedaan suku, perbedaan agama, perbedaan golongan. 
Dan ternyata, seluruh pelajar menjawab sikap toleransilah yang dikedepankan. 
Bahkan, bila ada bendera yang harus dikibarkan, pelajar menjawab paling utama bendera merah putihlah yang harus dikibarkan.
 
Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah, Siti Atikoh mengajak kepada para orang tua untuk lebih memerhatikan lingkungan aktivitas anaknya. 
 
Bahkan bila perlu, ikut serta dalam  mendampingi anak saat mengoperasikan gawai (gadget). 
 
"Orang tua juga mendampingi saat anak memainkan gadget juga. Karena kita tidak tahu, anak kita browsing apa sejak pakai gadget. Supaya, anak-anak bisa memilih yang positif," kata Siti Atikoh.
 
Menurutnya, orang tua juga wajib membentengi keluarga dengan mengenalkan ajaran dan sikap yang baik.  Selain itu, juga menjadikan sebuah keluarga tempat yang aman dan nyaman. "Sehingga deteksi secara dini bisa lebih cepat dilakukan," tuturnya.***

Editor: Heru Fajar


Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X