Hukum Puasa Ramadhan bagi Orang yang Sakit, dari Pandangan Syekh Yusuf al-Qardhawi

- 22 Maret 2023, 18:38 WIB
Hukum Puasa Ramadhan bagi Orang yang Sakit, dari Pandangan Syekh Yusuf al-Qardhawi /
Hukum Puasa Ramadhan bagi Orang yang Sakit, dari Pandangan Syekh Yusuf al-Qardhawi / /nastya_gepp / PIXABAY/

SEMARANGKU - Puasa Ramadhan adalah kewajiban bagi semua umat Islam yang telah baligh. Namun, ada orang-orang yang mendapat keringanan dalam menjalankannya termasuk orang yang sakit.

Islam adalah agama yang menginginkan kemudahan bagi pemeluknya, hukum puasa ramadhan berbeda tergantung kondisi seseorang.

Keringanan saat puasa Ramadhan juga tertuang langsung dalam firman Allah Swt, di QS. Al-Baqarah (2): 185 yang berbunyi:

“Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” 

Baca Juga: Macam-Macam Keutamaan Bulan Ramadhan, Raih Berlimpah Pahala dan Keberkahan

1. Orang yang sakit biasa

Menurut Syekh Yusuf al-Qardhawi, sakit yang dimaksud disini adalah sakit biasa yang kesembuhannya masih bisa diharapkan. Adapun penyakit yang berat dan tidak punya harapan sembuh punya ketentuan sendiri.

3 syarat penyakit yang mendapat keringanan puasa Ramadhan, adalah penyakit yang membuat orang tersebut menjadi payah dan sakit, puasa dapat memicu penyakitnya bertambah parah, atau puasa dapat memperlambat kesembuhannya.

Baca Juga: Hukum Niat dan Batas Waktu Niat Puasa Ramadhan Yang Belum Diketahui Banyak Umat Islam

Berbuka merupakan keringanan bagi mereka yang sakit, sama seperti orang yang bepergian.

Namun, jika ia merasa kuat, dibolehkan baginya untuk tetap berpuasa Ramadhan, dan tidak mesti menggantinya di kemudian hari.

Akan tetapi, bukanlah sebuah kebaikan berpuasa ketika sakit, jika puasa Ramadhan tersebut menyebabkan kesulitan yang berat.

Bahkan, orang yang sakit bisa menjadi keringanan tidak berpuasa lebih besar daripada musafir. 

Karena seorang yang bepergian ketika berpuasa Ramadhan, kemudian menemukan kesulitan harus mengakhiri puasanya, untuk menghindari datangnya penyakit.

Sakit lebih berisiko daripada safar, maka Al-Qur’an memprioritaskan yang sakit dibandingkan yang melakukan perjalanan.

Pendapat ulama salaf yang membolehkan berbuka bagi segala jenis penyakit, baik itu penyakit ringan atau kecil, datang dari ibnu Sirin. 

Suatu ketika Ibnu Sirin, seorang tabi’in, berbuka puasa di bulan Ramadhan, saat beliau ditanya alasannya berbuka, Ibnu Sirin menjawab,”Sungguh jempol tanganku sedang sakit.”

Namun, pendapat Ibnu Sirin ini dinilai lemah oleh mayoritas ulama, karena semua manusia akan merasakan sakit atau mempunyai penyakit. Sehingga 3 syarat penyakit, yang meringankan kewajiban berpuasa lebih disepakati para ulama.

2. Orang yang sakit kronis

Orang yang menderita penyakit kronis, dan membuat dirinya sangat berat dalam melaksanakan puasa, maka ia tidak perlu berpuasa Ramadhan. 

Mereka ini adalah orang yang tidak memiliki harapan sembuh untuk penyakitnya. Tanpa ada pertentangan pendapat dari ulama, ia dibebaskan dari kewajiban puasa Ramadhan.

Orang yang sakit keras dibolehkan berbuka, tidak disyaratkan ia harus mencapai batas tidak kuat lagi berpuasa, tetapi cukup jika telah mengalami kesusahan saat melakukannya.

Yang juga termasuk ke dalam golongan ini adalah orang yang pikun. sebagaimana sabda nabi Muhammad Saw,

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit, kecuali Dia menurunkan juga obatnya, kecuali kepikunan,”

Orang yang menderita pikun menunjukkan usianya yang sudah tua, sehingga tidak memungkinkan ia untuk mengganti puasa di kemudian hari.

Bagi kedua orang ini wajib membayar fidyah (memberi makan orang miskin), sebagai ganti puasa Ramadhan. Sedangkan penyakit biasa wajib mengqadha puasa Ramadhan di hari lain.***

Editor: Heru Fajar


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x